Senin, 10 Oktober 2011

Tambang Nikel, dan Mimpi Buruk Masyarakat Obi


Oleh Jenmerus V. Popana
KEBIJAKAN pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan yang mendorong sebesar-besarnya sektor investasi pertambangan, telah menciptakan terbukanya ruang-ruang investor pertambangan masuk ke daerah ini. Dari keseluruhan wilayah Halmahera Selatan, Pulau Obilah yang sangat ramai di kunjungi investor untuk menanamkan investasi mereka, Terdata kurang lebih 20 Ijin Usaha pertambangan yang beroperasi di Obi. Dari jumlah itu, beberapa diantaranya telah memasuki tahapan eksploitasi/Produksi, sedangkan lainnya masih berkisar pada eksplorasi dan penelitian umum. Investasi, disebutkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteran rakyat. Benarkah? Jawaban atas pertanyaan ini memang kompleks. Dibutuhkan banyak indikator dan Analisa untuk dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Tulisan ini tidak kemudian  menjawab pertanyaan itu secara tuntas. Melainkan sekedar memberikan gambaran tentang plus minus peluang kesejahteraan orang Obi, dari reaksi atas kebijakan investasi itu.
Kesejahteraan rakyat, adalah sebuah kondisi dimana kehidupan manusia (baca: Masyarakat Obi) yang mapan. Dimana segala kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan sempurna.
Ketika sinyal kesejahteraan ini diimingi dari kebijakan investasi oleh para Investor maupun penguasa daerah, maka tidak ada alasan yang cukup bagi masyarakat dilingkaran/ area pertambangan untuk memberikan argumentasi lain, selain kata “setuju”.
Sebab, kondisi perekonomian bangsa Indonesia belakangan ini sudah sedimikian terpuruk. Apalagi kondisi masyarakat Obi terlebih khusus di daerah pertambangan hanya mengandalkan perkebunan kelapa dan nelayan dan belakangan ini justru nilai jual Kopra semakin merosot.
Ditengah keterpurukan ekonomi ini, pemerintah kemudian memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyat, yang salah satunya bisa didorong lewat kebijakan investasi. Sebut saja, investasi tambang nikel yang ada di daerah ini, seperti yang ada di Pulau Obi khususnya desa Kawasi dan desa lainnya yang masuk pada daerah Konsesi
Naiknya harga kebutuhan pokok, menurunnya harga jual hasil produksi pertanian/perkebunan, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, serta sulitnya mencari pekerjaan, telah membuat rakyat ikut bermimpi, tentang kedatangan sebuah kesejahteraan, yang disebutkan akan lahir sejalan dengan kebijakan investasi pertambangan nikel.

Okelah kita tidak perlu membahas pertambangan nikel yang masih dalam tahap eksplorasi, dalam kesempatan ini saya hanya sedikit focus membahas pertambangan yang ada di Kawasi.
Ada beberapa potensi konflik dan permasalahan terjadi Desa Kawasi (Maaf Menurut saya), yang pertama adalah soal egoisme masyarakat Kawasi yang hanya mementingkan orang orang tertentu untuk menikmati hasil pertambangan, dalam hal berdagang misalnya, masyarakat Kawasi lebih menerima Orang luar Obi untuk berdagang ketimbang menerima desa desa tetangga, katakanlah Soligi..!!! (Upss saya tidak bermaksud memprofokasi, ini fakta boss..!! :D )sehingga beberapa waktu lalu hamper saja terjadi tawuran antar kedua desa tersebut, ini  jelas-jelas merusak tatanan kehidupan bermasyarakat di wilayah itu,
Yang kedua masalah CSR/Comdev. Setahu saya ploting anggaran untuk Comdev harus mengarah ke ring 1dan ring 2, ring 1 untuk daerah  pertambangan dan ring 2 untuk masyarakat di sekitarnya, sesuai dengan Namanya Community development maka sesunggunya dalam pembagian anggaran harus jelas arahnya, yaitu berapa % untuk desa kawasi dan berapa % untuk desa seputar kawasi. Dari pemahaman yang saya dapat, kemudian saya melakukan penelusuran dengan cara memasukan proposal bantual studi akhir saya, walhasil saya bertemu dengan namanya manajemen Amburadul yang kaku.......
Disana saya disuruh untuk harus bertemu kepala kampong, namun saya tak menggubris kemudian saya sendirilah yang mengantar ke karyawan Comdev dengan harapan akan segera cair sesuai peruntukannya, namun seminggu 2 minggu 3 minggu kemudian saya kembali ke desa tersebut untuk Crosscheck dan mereka mengarahkan saya untuk bertemu dengan Top leader mereka di Comdev, yang katanya bernama Pa TOGAP, dengan sikap yang berani dan tak malu malu, saya kemudian bertemu dengan Pa TOGAP.... wewww Minta Ampong dia pe makang puji
Dengan berbekal senyuman yang malu malu saya memberikan salam dan berjabat tangan, dan dengan nada sinis dia berkata kepada saya, “Maaf kamu siapa?” jawab saya “ saya mahasiswa Obi yang lagi studi akhir dan 3 minggu lalu saya sudah masukan proposal bantuan studi akhir saya Pa” lanjut dia “ Maaf proposalnya banyak dan saya lagi sibuk jadi saya belum periksa itu, nanti kamu balik saja’’wow saya harus balik?? Semantara saya lagi studi di Sulawesi.... ketusku...ahhhrggg busyet peramok memang kamu, hasilku kamu sudah ambil giliran saya butuh belas kasihan kamu malah injak saya..!!!
Pengalaman diatas merupakan suatu hal yang sangat krusial bagi saya, dan perlu disikapi oleh Putra Putri Obi, saya sengaja menjadi seorang pengemis didalam rumah saya dan ternyata perampok tak menghiraukan saya... Kacian de loe...!!!
Namun persoalannya tidak bisa hanya berhenti disitu saja. Fakta menunjukan pertambangan nikel di wilayah itu telah memicu potensi Rawan bencana, rawan konflik perbatasan, antara Kawasi dan soligi, rekrutmen tenaga kerja, pencemaran lingkungan, budaya, adat dan sebagai, sebagainya... masih banyak lagi yang perlu saya ungkap dalam Tulisan jelek saya ini, namun saya sudah cape berpikir untuk berbuat bagi Obiku tercinta, sehingga saya hanya mengharapkan bantuan teman2 untuk bergerak berbarengan dan maju melawan penindas
Akhirnya, untuk kawan-kawanku di Obi, ada beberapa pilihan yang perlu ditempuh. Tunduk dan patuh untuk siap ditindas, atau bergerak bangkit dan melawan. Sebab, diam adalah sebuah penghianatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar